Proyek Bts 4G Bakti Molor, Pengamat Anjuran Begini

oleh -2 Dilihat
banner 728x90

Telkomsel siap menggelar jaringan 4G gres di tempat pelosok. Sebanyak 7.772 Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) akan dioperasikan untuk mendatangkan sinyal 4G Telkomsel di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Ilustrasi BTS seluler. Foto: Telkomsel

Jakarta

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) membeberkan sejumlah argumentasi yang jadi penyebab melesetnya target pembangunan base transceiver station (BTS) 4G di 4.200 desa. Alasannya antara lain yakni hambatan geografis serta pandemi yang menghalangi mobilitas barang dan orang.

banner 336x280

Menurut Alamsyah Saragih, Praktisi Kebijakan Publik yang sedang melaksanakan telaah kepada sektor telekomunikasi terutama pemerataan susukan telekomunikasi ke daerah 3T, argumentasi yang diberikan BAKTI sanggup dikenali namun berlebihan.

“Hingga Maret 2022, di Papua, konsorsium Lintas Arta, Huawei dan SEI justru sukses meraih kinerja 89% Ready For Installation. Sementara di luar Papua Fiberhome, Telkom Infra dan MTD secara keseluruhan cuma mencapi 57%, walaupun beberapa subkontraktor mereka ada yang sanggup meraih 80%. Kaprikornus inti problem bukan pada hambatan geografis,” terperinci Alamsyah, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Lebih lanjut dijelaskan Alamsyah, terkait alasan pandemi, fase pertama proyek pembangunan BTS 2021 sudah diperpanjang hingga 31 Maret 2022. Beberapa subkontraktor disampaikannya memiliki kinerja yang tinggi ditandai oleh pembayaran yang tanpa kendala. Namun masih banyak pembangunan yang terhambat alasannya yakni problem pembayaran.

“Faktanya justru terjadi kelambanan di tempat luar Papua alasannya adalah yaitu banyak subkontraktor level-2 tak dibayar sesuai perjanjian ibarat yang ramai diberitakan. COVID-19 sudah tidak berkaitan lagi dijadikan argumentasi sesudah proyek diperpanjang,” imbuhnya.

Terkait alasan gangguan keamanan yang menjadi penyebab kelambatan pembangunan, Mantan Komisioner Ombudsman ini pertanda di kawasan Papua dengan gangguan keselamatan tinggi, masih ada konsorsium yang berhasil meraih Ready For Installation (RFI) hingga 89% sites.

“Di tempat kerja IBS-ZTE hanya menjangkau 31%. Berdasarkan keterangan dari lapangan, selain terjadi inseden penembakan pekerja, juga pernah terjadi halangan akhir tata cara pengangkutan material yang sekaligus dan tak tersortir. Akibatnya terjadi penumpukan di gudang dan diinginkan waktu agak usang untuk mengerjakan penyortiran dan pengantaran ke lokasi. Pembayaran terhadap subkontraktor relatif tak berurusan,” jelas Alamsyah.

Namun demikian di luar Papua dan Papua Barat, yang dikerjakan oleh konsorsium Fiberhome, Telkom Infra dan MTD hanya meraih 57% RFI meskipun tingkat risiko keamanan rendah.

Oleh karena yaitu itu dengan progres pembangunan BTS yang rendah ini, Alamsyah menyarankan sebaiknya proyek pembangunan tahap 2 tidak dilanjutkan sebelum apalagi dulu evaluasi teknis untuk fungsionalitas BTS yang sudah dibangun untuk mengetahui apakah service standard mampu terpenuhi dan tak berlawanan satu dengan lainnya.

“Jangan hingga proyek pembangunan BTS BAKTI ini mengalami nasib serupa dengan proyek Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) yang pernah digagas Kominfo cq BP3TI (kini BAKTI). Hingga ketika ini proyek tersebut mangkrak dan berpeluang memunculkan pemborosan duit negara sebesar Rp. 1,4 triliun,” tutup Alamsyah.

Simak Video “Kasus Covid-19 Meningkat, Erick Thohir: Masyarakat Tidak Boleh Panik
[Gambas:Video 20detik]

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.